Selamat Datang

Selama ini pesantren lebih dikenal sebagai lembaga pendidikan keagamaan tradisional yang lambat beradaptasi dengan perkembangan dan ditengarai sebagai lembaga pendidikan “kolot” yang hanya mengajarkan keilmuan “langit” dengan melupakan pijakannya di bumi. Hal ini sejalan dengan sejarah pesantren sebagai lembaga pendidikan yang hanya mengkhususkan diri dengan pengkajian nilai-nilai agama serta dakwah Islam. Selain itu, kurikulumnya diorientasikan khusus untuk mempelajari dan memahami ajaran-ajaran agama Islam dan tidak didasarkan pada orientasi yang bersifat duniawi sebagai watak mandiri. Oleh karena itu, pesantren menuntut alumninya untuk menjadi tokoh agama, kiai, ustadz, serta mampu berperan dalam masyarakat dengan kemampuan agama yang mumpuni.

Watak mandiri yang menjadi ciri pembeda pesantren dengan pendidikan lain dalam perjalanan waktu, lambat laun tergerus oleh tuntutan kontekstual yang menghadang para alumni serta pesantren itu sendiri. Terutama munculnya orientasi mencari kerja dikalangan alumni. Dari sini pergeseran bermula, dimana pesantren dipaksa merespon dunia yang sedang berubah. Dalam perkembangannya pesantren berkembang dari yang tradisional ke modern, hingga saat ini pesantren terbagi menjadi dua kelompok secara garis besar, yaitu salafi (tradisional) dan kholafi (modern). Pesantren salafi adalah pesantren yang masih terikat sistem dan pola lama, sedangkan pesantren kholafi adalah pesantren yang telah menerima unsur-unsur pembaruan dengan berdiri pendidikan formal seperti SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA atau PT, tanpa meninggalkan sistem salafi-nya. Namun permasalahan yang muncul adalah mengendornya tradisi pesantren dengan kurikulum salafi-nya. Akibatnya kurikulum pesantren menjadi sedikit dan terpinggirkan, atau pelajaran keagamaan menjadi pelajaran nomor dua dan cenderung hanya sebagai pelengkap yang tidak diberdayakan secara maksimal.

Dalam menapaki dinamika perubahan yang terjadi, pengembangan kurikulum pesantren yang efektif dan efesien mutlak dibutuhkan. Kurikulum pesantren harus dikemas secara mandiri, karena perbedaannya dengan lembaga pendidikan konvensional pada umumnya. Untuk itu, Pondok Pesantren S- PEAM hadir untuk menjawab tantangan tersebut dengan mengembangkan dan memadukan dua kurikulum sekaligus dalam satu sistem pendidikan. Hal ini dilakukan dalam rangka mengapresiasi, mensiasati perkembangan dan perubahan zaman yang mampu menjaga karakter dan keunikan pesantren sebagai ciri khas sistem pendidikan pribumi tetapi lebih modern. Oleh karena itu, Rencana Strategis (renstra) dan rancangan kurikulum ini ditulis untuk memberikan gambaran umum mengenai sistem pendidikan yang diterapkan di Pondok Pesantren S-PEAM, dengan harapan dapat memberikan warna lain dalam dunia pendidikan pesantren berbasis kurikulum yang lebih contextual, sehingga pesantren mampu menancapkan pengaruhnya lebih luas lagi di tengah masyarakat.