Bahasa Arab & Inggris

PROGRAM BAHASA

Studi Bahasa Arab

Studi Bahasa Arab adalah kajian teoritis tentang perangkat atau ilmu alat bahasa Arab sebagai bekal untuk memahami al-Quran dan as-Sunnah. Di samping itu, bahasa Arab juga diupayakan menjadi aplikasi praktik sehari-hari untuk menumbuhkan pembiasaan bagi santri dapat berbahasa Arab dengan baik dan lancar sesuai tingkat kamampuan masing-masing. Rumpun mata pelajaran tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Muhadastah dan Qishah
  2. Nahwu
  3. Shorraf
  4. Insya’/Perbendaraan Kosa Kata
  5. Khitobah
  6. Muthola’ah
  7. Imla’

Studi Bahasa Inggris

Studi Bahasa Inggris adalah desain pembelajaran bahasa Inggris yang lebih menitik beratkan pada pembiasaan dan pengembangan praktik komunikasi sehari-hari, baik dalam bentuk percakapan, cerita, pidato, menulis maupun penguasaan tata bahasa. Semua aspek itu digali dan ditumbuhkan dalam nuansa kebahasaan yang kondusif dengan metode yang menyenangkan. Santri diharapkan benar-benar memiliki kecakapan yang mumpuni dalam berbahasa Inggris sebagai bekal untuk dapat eksis hidup di era kompetisi di tingkat global. Rumpun mata pelajaran tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Conversation
  2. Grammar
  3. Writing
  4. Telling Story
  5. Spelling Bee
  6. Speech
  7. EDF (English Debate Forum)

PENERAPAN

Penerapan bahasa Arab dan Inggris di pondok pesantren S-PEAM adalah ikhtiar kami dalam upaya mencetak generasi yang tidak hanya pandai di bidang agama atau umum, tapi juga pandai di bidang keilmuan lainnya. Kami menyadari kelemahan umat Islam pada dasarnya adalah tidak menguasai bahasa selain bahasa rumpunnya. Padahal sesungguhnya bahasa Arab sebagai kunci untuk menguasai ilmu-ilmu keislaman dan bahasa Inggris menjadi sarana untuk memahami ilmu-ilmu umum atau sains. Dengan penguasaan kedua bahasa ini, kami berharap alumni S-PEAM tidak hanya menjadi ahli dalam ilmu agama, tapi juga menguasai sains dan ilmu-ilmu lainnya. S-PEAM ingin mencetak generasi islami yang intelek.

Secara bertahap, bahasa Arab dan Inggris akan dikembangkan di S-PEAM. Untuk menunjang perkembangannya, pengajaran di kelas menggunakan bahasa Arab dan Inggris, sesuai pelajarannya. Buku-buku materi berbahasa Arab tidak boleh diterjemahkan ke bahasa Indonesia, demikian pula buku-buku pelajaran bahasa Inggris. Kedua jenis pelajaran ini harus disampaikan menggunakan bahasa aslinya. Inilah yang disebut dengan thariqah mubasyirah.

Metode ini diterapkan sepenuhnya mulai kelas 2. Di kelas satu, beberapa pelajaran keislaman masih menggunakan bahasa Indonesia. Tapi, khusus untuk pelajaran bahasa Arab yang menggunakan buku “Durusu al-Lughah al-‘Arabiyah” karya K.H. Imam Zarkasyi dan H. Imam Syubani wajib disampaikan dengan bahasa Arab. Pelajaran bahasa Inggris juga demikian.

Di asrama, santri dan santriwati harus menggunakan bahasa Arab atau Inggris dalam setiap percakapannya. Begitu pula dalam pergaulan mereka dengan santri-santri lain di luar asrama. Ada istilah minggu bahasa Arab dan minggu bahasa Inggris, atau diistilahkan juga dalam bahasa Inggris dengan Arabic fortnight and English fortnight. Sedangkan dalam bahasa Arab diberi istilah al-usbu’ al-‘Araby wa al-usbu’ al-Injilizy. untuk penerapan kedua bahasa asing tersebut dalam percakapan santri-santri, bagian bahasa di S-PEAM menjadwalkannya secara teratur dalam dua mingguan. Dua minggu khusus untuk bahasa Arab, dan kemudian berganti bahasa Inggris untuk dua minggu selanjutnya. Biasanya, pergantian bahasa itu berlangsung di hari Jum’at, tepat setelah Maghrib, saat pengumuman harian terkait kegiatan pondok atau santri dibacakan Bagian Penerangan Organisasi Pelajar S-PEAM. Jika pengumuman itu berbahasa Arab, berarti mulai saat itu hingga dua minggu ke depan santri-santri wajib berbahasa Arab. Sebaliknya, jika pengumumannya berbahasa Inggris, berarti mereka telah memasuki minggu bahasa Inggris. Peraturan ini berjalan dengan disiplin tinggi. Di asrama, santri-santri diawasi para pengurus dari 2 SMA. Sedangkan kelas 3 SMA selaku pengurus OPSPEAM, khususnya Bagian Penggerak Bahasa Pusat atau lebih dikenal dengan istilah The Centre for Language Improvement (CLI) dalam bahasa Inggris dan Qismu Ihyȃi al-Lughah al-Markazy dalam istilah Arab-nya, mengawasi jalannya disiplin bahasa di asrama-asrama dan di kawasan pondok secara menyeluruh.

Mereka bertanggung jawab kepada Bagian Pembimbing Bahasa atau Qismu Haiati Isyrȃfi al-Lughah yang dipegang guru-guru pembimbing bahasa. Bagian Pembimbing Bahasa yang dikenal juga dengan istilah Language Advisory Council (LAC) ini mengawasi dan membimbing langsung jalannya disiplin bahasa kelas 3 SMA secara khusus. Seluruh santri tidak diperbolehkan menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari mereka, apalagi bahasa daerah, termasuk santri-santri dari kelas 3 SMA.

Khusus santri baru, mereka diberi waktu tiga bulan masa percobaan untuk membiasakan diri berbahasa resmi pondok, sebelum benar-benar diwajibkan. Dalam tiga bulan pertama, santri baru masih ditoleransi menggunakan sedikit bahasa Indonesia dalam percakapannya sambil perlahan mempraktikkan bahasa Arab. Biasanya, secara bertahap dalam jangka waktu itu santri baru akan mampu bercakap-cakap ringan dengan bahasa Arab yang sering didengar dan dicontohkan guru di kelas atau kakak kelas 2 SMA di asrama. Tiga bulan selanjutnya, ia sudah harus berhati-hati agar tidak sampai berbicara bahasa Indonesia sepatah kata pun juga. Disiplin bahasa sudah sepenuhnya harus dipatuhi memasuki bulan keempat mereka menjadi santri S-PEAM.

Pada enam bulan pertama itu, santri baru hanya mempraktikkan percakapan berbahasa Arab. Mereka belum terikat peraturan dua minggu bahasa Inggris. Selama setengah tahun, mereka dibiasakan berbahasa Arab dulu di asrama dan dalam pergaulan sesama santri baru. Barulah pada semester kedua, santri-santri baru mulai mengikuti peraturan berbahasa dwi-mingguan, bahasa Arab dan Inggris secara bergantian.